Tiap jumat malem

Pas ga sengaja pulang malem, ternyata di pendopo kab grobogan lg ada pagelaran wayang kulit. Pas, scene-nya limbuk dan cangik.
Impian dan Gelembung Sabun
Ada yang belum pernah main gelembung sabun? Waktu kecil, saya g pernah sama sekali dibelikan “mainan” gelembung sabun (curhat :p). Maksudnya set mainan gelembung sabun yang memang dibuat “secara profesional” dan dijual. Untungnya waktu itu saya sudah mengenal sebuah material yang bernama kawat bendrat (rebar tie wire) dan bubuk ajaib bernama deterjen
.
Ketika ada teman yang berbicara tentang impian, saya terbayang seorang anak kecil yang bermain gelembung sabun di sebuah taman. Impian, anak kecil, dan gelembung sabun. Saya berpikir kenapa seperti itu. Dan saya menemukan bahwa impian adalah sisi anak kecil yang belum tercerabut oleh kedewasaan kita. Gelembung sabun yang masih mesti kita tiupkan dan kita kejar saat ini.
mimpi itu seperti gelembung sabun yang kita tiup
indah dan mempesona
melayang tinggi
membiaskan sinar dan pancaran sekitar
tiuplah mimpi-mimpimu
lalu kejar dan raihlah
agar tak lalu pecah
atau hilang melayang
Inkscape : Setelah Hampir 2 Minggu….
Bukan gara-gara coret-coret digital Om Q-thrynk, tapi pada 05 April 2011 ternyata saya mengunduh inkscape!
Karena kesibukan ditambah kemalasan dibumbui lack of determination serta kenyataan bahwa prosesor saya ternyata rada ra nyaut, baru akhirnya, setelah hampir 2 minggu kelarlah 2 latihan pertama.
Horeee…
ehehehe
Latihan pertama ngikutin tutorial bikin bohlam. Kayak gini hasilnya….
Latihan kedua ngikutin tutorial bikin boks kardus. Hasilnya seperti ini….
Ehehehehe… Bagus ya (bilang saja iya
), sayang baru bisa niru, namanya juga belajar….
Study study study…..
salah, maaf dan kehati-hatian dalam berbuat
Ada yang mengendap tadi waktu anakeibuk diajak chat sama mbak dosen yang lagi diet dan kesepian pinter dan baik hati.
Dipikir-pikir sayang kalau dibiarkan begitu saja, mending dijadiin post pertama di blog ini
.
“Hendaknya kita menyadari kalau setiap orang bisa saja berbuat salah, sehingga kita harus selalu menyediakan maaf setiap saat. Tapi yang lebih penting, hendaknya kita menyadari kalau setiap orang bisa terluka karena kesalahan kita, sehingga kita mesti selalu berhati-hati dalam berbuat.”





Komentar Terakhir